Hikmah

Ibu Sang Pengukir Jejak

Image

 

Entah berapa juta langkah jarak yang sudah kutempuh. Entah berapa juta jejak yang sudah kuukir. Entah berapa juta kilo kalori yang terbakar menjadi energi. Entah berapa kubik peluh yang sudah mengalir.

Aku, seorang ibu dari 1 puteri dan 1 putera. Puteriku sudah menuntut ilmu di Sekolah Dasar sejak tahun lalu. Puteraku baru saja masuk Taman Kanak-kanak tahun ini.

Sejak puteriku masuk SD, akulah yang menjemputnya saat pulang sekolah. Puteraku yang saat itu belum masuk TK selalu minta ikut menjemput, kecuali dia sedang tidur. Aku pun mengiyakannya karena di rumah tidak ada orang yang bisa menjaga puteraku yang masih balita. Sedangkan saat berangkat sekolah, suamiku turut serta mengantar, memboncengku dan anak-anak di atas sepeda motor. Setelah mengantar, suamiku langsung berangkat untuk bekerja.

***

Sekira seribu meter jarak yang harus aku tempuh bersama balitaku menuju sekolah puteriku. Pulangnya, seribu meter pula jarak dari sekolah ke rumah. Ya, sekira dua ribu meter total jarak perjalanan untuk menjemput puteriku. Sejauh itu aku tempuh dengan berjalan kaki karena tidak punya kendaraan lagi selain motor yang dipakai suamiku bekerja. Dan tidak bisa ditempuh dengan angkutan umum.

Saat matahari condong ke arah barat namun teriknya masih terasa membakar kulit, saat itulah mulai langkah demi langkah mengukir jejak di atas jalanan. Pakaian lengan panjang, dan penutup kepala menjadi pelindung balitaku dari teriknya matahari. Aku sendiri, sudah cukup tertutup dengan pakaian syar’i. Tinggal menambahkan masker hidung saja untuk menutupi sebagian wajah.

Sekira 1/5 perjalanan pertama, kedua dan ketiga adalah jalanan di antara pemukiman penduduk yang cukup lebar. Seperlima perjalanan keempat adalah jalan raya. Seperlima perjalanan terakhir adalah jalan masuk menuju sekolah puteriku yang juga jalanan menuju pemukiman penduduk.

Perjalanan menjemput puteriku tidak selalu datar. Ada turunan yang harus dituruni di jalan raya arah ke sekolah. Lalu, turunan ini berubah menjadi tanjakan yang harus didaki ketika pulang.

Sebenarnya bukan hanya puteriku yang aku jemput. Tetapi bersama teman sekelasnya yang tinggal bertetanggaan. Ibunya menitipkan kepadaku saat menjemput karena beliau harus menjaga 2 balitanya.

Mengingat jalan pulang yang cukup jauh bagi anak-anak. Maka aku bantu mereka dengan membawakan tas ranselnya. Satu di punggungku dan satunya lagi di depanku. Cukup berat memang karena buku-buku yang mereka bawa setiap hari jumlahnya banyak.

Tap…tap…tap….Langkahku semakin mantap diiringi tarikan dan hembusan nafas. Walau udara tak segar lagi karena asap mobil dan motor para penjemput siswa. Namun cukup tersaring dengan masker hidungku. Sementara, anak-anak yang bersamaku tampak riang berjalan. Sesekali mereka berlari-lari kecil saat jalanan mulai lengang.

Tiba di jalan raya, pengawasanku terhadap anak-anak harus lebih seksama karena saatnya menyeberangi jalan. Lalu dimulailah pendakian kecil di tepi jalan. Mendaki dengan 2 tas ransel di bawah teriknya matahari, membuatku kuyup dengan peluh. Anak-anak pun mendaki dengan riangnya. Mendaki, mengajarkan mereka pantang mengeluh. Sampai di atas, jalan mendatar lagi, melewati titik kemacetan di depan jalan masuk sekolah lain.

Hfuuuh…. nafasku legaaa…. setelah melewati jalan raya dengan tanjakan tadi. Selanjutnya, melewati jalan pemukiman menuju rumah.

***

Seperti itulah petualangan kecilku mengukir jejak. Lima hari dalam sepekan selama 1 Tahun Ajaran Sekolah. Hal ini cukup menuai respon dari para ibu wali murid. Di antara mereka, terkadang ada yang berbaik hati menawarkan tumpangan di motor atau mobilnya. Walau hanya untuk beberapa meter ke depan. Salah seorang dari mereka bahkan ada yang merasa kasihan melihatku dan anak-anak berjalan jauh di bawah terik matahari sehingga beliau memberiku sebuah sepeda miliknya yang sudah lama tidak terpakai.

“Lumayan, walau tidak cukup untuk berempat, tapi setidaknya si kecil bisa dibonceng,” katanya.

Sepeda itu aku coba ketika puteraku sudah masuk TK. Lokasi TK lebih jauh dari lokasi SD puteriku. Sedangkan puteriku, di awal tahun ke-2 sekolahnya sudah tidak aku jemput lagi. Kecuali waktu tertentu saja. Dia ikut pulang bersama teman dan ayah temannya naik motor.

Pada suatu pagi, untuk kali pertama aku pakai sepeda itu untuk mengantar puteraku padahal biasanya diantar pakai motor ayahnya. Tetapi, saat itu ayahnya sedang sakit, aku coba antar dia dengan mengayuh sepeda. Dia duduk diboncengan belakang.

Sepanjang jalan sebelum memasuki jalan raya, puteraku tampak senang. Pengalaman baru baginya, dibonceng ibunya pakai sepeda. Namun, tak lama berubah menjadi tegang saat melewati turunan di jalan raya. Aku tarik rem agar sepeda tidak terlalu cepat melaju di turunan. Tetapi tak bisa mengurangi laju sepeda. Padahal saat di jalan datar, rem cukup untuk menghentikan roda sepeda. Kucoba lagi tarik rem sekuat tenaga. Ternyata rem sepeda tidak bisa mengurangi laju sepeda di turunan. Rem blooong. Dag, dig, dug jantungku berdegup kencang. Cemaaas. Di depan tampak sebuah mobil keluar dari gang. Paniiik, takut menabrak.

“Tolong yaa Allah”, lirihku.

Dengan gesit kubelokkan sepeda ke arah kiri ke depan halaman toko agar tidak menabrak mobil. Dan upsss, hampir saja menabrak tiang toko. Fiuuuh, selamaaat.

“Alhamdulillaah yaa Allah.”

“Hati-hati Buuu,” kata pengendara mobil itu.

Bersyukur puteraku tidak jatuh, tetapi dia ketakutan. Aku coba menenangkannya lalu melanjutkan mengayuh sepeda.

” Ummi, makanya hati-hati,” saran puteraku.

“Iyaa, itu tadi karena remnya blong.” Balasku.

Tiba di sekolah, anak-anak TK sudah berbaris. Puteraku merasa kesiangan, jadilah dia menangis, tidak mau masuk kelas. Mungkin suasana hatinya juga masih cemas, tidak nyaman dengan kejadian tadi. Lalu ibu guru berperan menenangkannya. Akupun pulang dengan lebih hati-hati. Saat menemui turunan, aku lebih baik turun dari sepeda agar bisa direm dengan kaki.

Esoknya dan hari-hari berikutnya, aku kembali berjalan kaki menjemput puteraku. Hanya saja, di jalan raya aku bisa naik angkutan umum walau jaraknya cukup dekat. Lalu, lanjut lagi berjalan melewati komplek perumahan sampai ke sekolah TK.

***

Sampai kisah ini ditulis, aku masih setia mengukir jejak demi menjemput para penuntut ilmu yang masih belia.

Entah berapa juta langkah jarak yang sudah kutempuh. Entah berapa juta jejak yang sudah kuukir. Entah berapa juta kilo kalori yang terbakar menjadi energi. Entah berapa kubik peluh yang sudah mengalir. Tapi aku BANGGA. Ya, bangga ditakdirkan menjadi seorang ibu yang masih kuat berjalan jauh dengan beban 2 tas ransel padahal perawakanku mungil. Ya, bangga karena mungkin tidak semua ibu sanggup menjalankan peran sepertiku ini. Peran sebagai Pengukir Jejak menjemput para belia penuntut ilmu.

Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga. (H.R.Muslim)

Sabda Rasulullaah ini menjadi penyemangat menjalankan peranku saat ini. Peran sebagai Ibu Rumah Tangga bergelar Sarjana yang mengukir jejak-jejak di jalanan demi menjemput para belia penuntut ilmu. Ya, itu salah satu peranku sebagai Ibu Rumah Tangga di antara banyak peran IRT pada umumnya. Tampak melelahkan memang, tetapi aku masih punya energi untuk belajar menjadi Ibu Pebisnis yaitu menjadi reseller, menjadi agen dan menjadi marketing online Indscript Training Center. Dan tentu belajar menjadi Ibu Penulis juga, in syaa Allah. AKU BANGGA MENJADI IBU.

Jutaan langkah jarak yang sudah kutempuh. Jutaan jejak yang sudah kuukir. Jutaan kilo kalori yang terbakar menjadi energi. Berkubik-kubik peluh yang sudah mengalir. Takdirkan aku ikhlas yaa Allah. Agar tak sia-sia perjuanganku mengukir jejak. Harapku, semoga perjuanganku mengukir jejak menjemput para belia penuntut ilmu mendapatkan keutamaan sebagaimana keutamaan para penuntut ilmu yaitu dimudahkannya jalan menuju surga. Aamiin.

Tangerang Selatan, Oktober 2016

Santi Yuliantini

*Tulisan ini diposting juga di emakpintar.asia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s